Untuk Sukses, Bisa Belajar dari Jatuh-Bangunnya Pendiri Gojek

Bermula dari sebuah event dengan nama Young Leaders of Indonesia, project yang digagas oleh seorang pemuda pada tahun 2009 ini sejatinya sudah dapat diperkirakan kesuksesannya. Adalah seorang Nadiem Makarim yang kemudian namanya menonjol sebagai pendiri Gojek Indonesia (atau biasa disebut gojek saja). Nadiem Makarim merupakan sosok utama berkembangnya apps transportasi yang memanjakan masyarakat selama kurang lebih 3 tahun belakangan, Beoners.

Keberadaan aplikasi Go-Ride, Go-Food, Go-Clean dan berbagai macam aplikasinya yang Anda nikmati adalah hasil kerja keras dari pria kelahiran Singapura tersebut. Lantas bagaimana cerita singkat dari seorang Nadiem Makarim sebelum akhirnya menjadi sesukses ini? Singkat cerita 2009 adalah tahun dimana Nadiem pada akhirnya memutuskan untuk membuat satu apps yang bertujuan untuk mempermudah system transportasi bersama rekannya yang juga merupakan pentolan Grab yakni Anthony Tan.

Perjalanan mulai didirikannya gojek mulai tahun 2009 hingga popular sampai sekarang bukannya tanpa halangan. Lantaran batuan penyandung kerap kali mendera bisnis dari Nadiem. Seperti contohnya bagaimana tahun 2009 keberadaan smartphone masihlah sangat jarang. Hanya sejumlah orang saja yang memiliki smartphone, itupun dengan harga yang amat mahal, tidak seperti sekarang yang smartphone sejutaan sudah menjamur.

pendiri gojek

Nadiem Makarim Pic: Studentpreneur

Hal tersebut membuat sang pendiri gojek juga amat kesulitan untuk mengembangkan aplikasinya karena calon konsumen yang amat terbatas. Tapi hal tersebut tak membuat Nadiem jadi patah arang, karena pada tahun 2011 akhirnya muncullah satu investor untuk ikut membiayai usaha dari Nadiem dan dua rekannya yakni Brian Cu dan Jurist Tan selaku Co-founder. Mulai 2011 itulah gojek mulai punya nafas panjang sebagai apps kemitraan untuk bertransportasi.

Selain itu, banyak juga muncul isu keberadaan transportasi gojek yang seringkali diintimidasi oleh para pelaku transportasi konvensional. Hal tersebut tentu saja membuat sang pendiri gojek jadi mengharuskan untuk memikirkan bagaimana cara yang lebih manusiawi untuk mengatasi konflik dari sisi para mitranya supaya tetap bisa menjalankan apps dan mencari uang dengan lebih aman lagi.

Tahun 2015 juga terjadi satu pola yang amat unik dimana saat aplikasi gojek mendapat pengembangan pada sisi apps pengiriman makanan pada Go-Food, pattern pasar menyajikan fakta bagi sang pendiri gojek berupa angka 85 persen pengguna gojek ternyata adalah peng-order Go-Food. Hal itulah yang kemudian menjadi alasan utama Nadiem mengembangkan Go-Food untuk mengakomodasi para pemesan makanan. Dan setidaknya hingga 2015 yang lalu sudah ada nyaris 15 ribu restoran yang bisa dipesan makanannya menggunakan Go-Food.

Share:

Written by

The author didnt add any Information to his profile yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *